Bank Indonesia

Bank Indonesia Peringatkan Tekanan Inflasi Akan Meningkat Menjelang Ramadan 1447 H

Bank Indonesia Peringatkan Tekanan Inflasi Akan Meningkat Menjelang Ramadan 1447 H
Bank Indonesia Peringatkan Tekanan Inflasi Akan Meningkat Menjelang Ramadan 1447 H

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memprediksi tekanan inflasi akan meningkat pada Februari 2026 seiring mendekatnya momentum Ramadan 1447 Hijriah. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 yang tercatat sebesar 168,6, meningkat dibandingkan periode sebelumnya 163,2.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut kenaikan ini dipicu oleh ekspektasi masyarakat terhadap harga barang menjelang Ramadan. Kendati demikian, responden survei memperkirakan tekanan harga akan mulai mereda pada Mei 2026.

Bank Indonesia mencatat IEH pada Mei 2026 diprediksi turun menjadi 154,5, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 161,7. Penurunan ekspektasi ini menunjukkan optimisme masyarakat bahwa pasokan barang akan lebih stabil setelah Ramadan.

Kinerja Penjualan Eceran dan Dampaknya Terhadap Inflasi

Sejalan dengan ekspektasi harga, kinerja penjualan eceran pada Februari 2026 diprakirakan mengalami kontraksi bulanan. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Februari 2026 yang tercatat 143,2, turun dari 157,2 pada periode sebelumnya.

Penurunan ini terutama dipengaruhi faktor musiman, yakni jumlah hari di bulan Februari yang lebih sedikit dibandingkan bulan Januari. Meskipun begitu, angka ini masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya karena mulai memasuki momentum pra-Ramadan.

Pada November 2025, BI mencatat penjualan eceran tumbuh sebesar 1,5% secara bulanan (month to month/MtM), menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Pertumbuhan ini meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 0,6% MtM, menunjukkan daya beli masyarakat meningkat saat musim liburan.

Mayoritas kelompok barang mengalami peningkatan penjualan, terutama Peralatan Informasi dan Komunikasi 5,5% MtM, Suku Cadang dan Aksesori 4,2% MtM, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 2,8%, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,2% MtM. Ramdan Denny Prakoso menyebut pertumbuhan ini seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN).

Secara tahunan (year on year/YoY), penjualan eceran juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,3% YoY pada November 2025. Angka ini meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat 4,3% YoY, memperlihatkan tren positif menjelang akhir tahun.

Kelompok barang yang mengalami kenaikan tertinggi secara tahunan adalah Suku Cadang dan Aksesori 17,7% YoY, Makanan, Minuman, dan Tembakau 8,5% YoY, Barang Budaya dan Rekreasi 8,1% YoY, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 0,8% YoY. Data ini menandakan permintaan masyarakat tetap kuat meski ada tekanan harga.

Proyeksi Penjualan Eceran Menjelang Ramadan dan Nataru

Untuk bulan Desember 2025, BI memproyeksikan penjualan eceran tetap meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) November 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,4% YoY, meskipun lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan bulan sebelumnya 6,3% YoY.

Pertumbuhan ini tetap ditopang oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Faktor utama pendorongnya adalah peningkatan permintaan masyarakat saat Nataru dan persiapan menjelang Ramadan.

Secara bulanan, penjualan eceran juga diperkirakan meningkat sekitar 4%. Kinerja mayoritas kelompok barang seperti Peralatan Informasi dan Komunikasi, Barang Budaya dan Rekreasi, Perlengkapan Rumah Tangga, serta Makanan, Minuman dan Tembakau mendukung tren positif ini.

Kenaikan permintaan masyarakat menjelang Nataru dan Ramadan menjadi indikator bahwa tekanan inflasi kemungkinan meningkat sementara. Bank Indonesia menekankan pentingnya pengawasan harga dan distribusi agar inflasi tidak melampaui target.

Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) menjadi alat penting bagi BI untuk memantau dinamika harga dan persiapan masyarakat. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat menyesuaikan strategi belanja dan produksi agar tekanan harga dapat dikelola dengan baik.

Selain itu, data penjualan eceran dan ekspektasi harga membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat. Koordinasi antara BI dan Kementerian terkait menjadi kunci agar Ramadan dan Nataru dapat berlangsung dengan stabilitas harga terjaga.

Dengan langkah-langkah ini, BI berharap tekanan inflasi yang dipicu oleh peningkatan permintaan dapat dikendalikan. Proyeksi ini menjadi penting untuk menjaga daya beli masyarakat tetap stabil dan mencegah gangguan ekonomi di awal tahun 2026.

Peningkatan tekanan inflasi menjelang Ramadan dan Nataru bukanlah hal yang tidak biasa. Namun, BI tetap optimistis bahwa langkah antisipatif dapat meminimalkan dampak terhadap masyarakat luas.

Kinerja penjualan eceran yang tetap positif meski ada tekanan harga menunjukkan ketahanan ekonomi domestik. Data ini menjadi indikator bahwa konsumsi masyarakat tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) dan Indeks Ekspektasi Harga (IEH) menjadi parameter utama dalam memprediksi tren inflasi dan pola konsumsi masyarakat. Pemantauan berkala dari BI memastikan langkah kebijakan dapat disesuaikan secara tepat waktu.

Bank Indonesia menekankan bahwa masyarakat sebaiknya menyiapkan strategi belanja yang bijak menjelang Ramadan. Pelaku usaha diharapkan dapat mengantisipasi lonjakan permintaan agar stok dan harga tetap terkendali.

Tekanan inflasi yang bersifat musiman ini diyakini akan mereda setelah puncak Ramadan. Prediksi penurunan IEH Mei 2026 menjadi 154,5 menunjukkan ekspektasi masyarakat bahwa harga barang akan stabil kembali.

Kombinasi antara pengawasan harga, peningkatan produksi, dan distribusi yang tepat menjadi langkah strategis menjaga stabilitas ekonomi. BI terus memonitor data penjualan eceran dan ekspektasi harga sebagai indikator dini tekanan inflasi.

Dengan antisipasi dan koordinasi yang baik, Bank Indonesia optimistis stabilitas harga tetap terjaga selama periode Ramadan dan Nataru. Proyeksi ini menjadi landasan kebijakan fiskal dan moneter untuk mengendalikan inflasi di tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index