JAKARTA - Kinerja dana pensiun kembali menunjukkan daya tahan di tengah dinamika pasar keuangan yang fluktuatif. Dana Pensiun Pemberi Kerja Penyelenggara Program Pensiun Iuran Pasti Bank Central Asia atau Dapen BCA mencatat hasil investasi yang solid hingga akhir 2025.
Capaian tersebut menjadi indikasi bahwa pengelolaan portofolio dana pensiun masih berada di jalur yang terkendali. Pendekatan konservatif dan selektif terbukti mampu menjaga kinerja investasi tetap stabil.
Dana Pensiun Pemberi Kerja Penyelenggara Program Pensiun Iuran pasti Bank Central Asia atau Dapen BCA mencatat Return on Investment sebesar 8,8% per Desember 2025. Angka ini mencerminkan hasil pengelolaan investasi yang konsisten sepanjang tahun.
Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno menyampaikan bahwa secara tren, kinerja ROI perusahaan menunjukkan kondisi yang positif dan stabil. Stabilitas tersebut tidak terlepas dari strategi pengelolaan portofolio yang disiplin.
Menurutnya, kinerja tersebut didukung oleh optimalisasi portofolio pendapatan tetap. Selain itu, pengelolaan aset dilakukan secara selektif untuk menjaga keseimbangan risiko dan imbal hasil.
“Upaya peningkatan ROI dilakukan melalui evaluasi berkelanjutan atas komposisi investasi dan pemanfaatan momentum pasar yang ada,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa, 6 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan pentingnya penyesuaian strategi secara berkala.
Evaluasi berkelanjutan menjadi kunci dalam menjaga performa investasi. Dengan memanfaatkan momentum pasar, Dapen BCA berupaya mengoptimalkan hasil tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Dominasi Instrumen Stabil dalam Portofolio Investasi
Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa portofolio investasi Dapen BCA saat ini masih didominasi oleh Surat Berharga Negara. Pilihan ini sejalan dengan karakteristik dana pensiun yang mengedepankan stabilitas.
Instrumen pendapatan tetap dinilai mampu memberikan arus kas jangka panjang yang lebih terprediksi. Hal tersebut penting untuk memastikan pembayaran manfaat pensiun tetap terjaga.
Menurut Budi, dana pensiun memiliki tanggung jawab jangka panjang kepada para pesertanya. Oleh karena itu, aspek keamanan dan kesinambungan hasil menjadi prioritas utama.
Dominasi SBN dalam portofolio juga mencerminkan pendekatan defensif. Strategi ini bertujuan meminimalkan dampak volatilitas pasar terhadap nilai aset.
Budi merinci komposisi penempatan dana investasi Dapen BCA per Desember 2025. Surat Berharga Negara tercatat sebesar 39,23% dari total portofolio.
Selain SBN, investasi juga ditempatkan pada aset riil. Tanah dan bangunan memiliki porsi sebesar 15,22% dalam portofolio investasi.
Instrumen deposito juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan dana. Porsi deposito tercatat sebesar 14,51% per akhir 2025.
Selanjutnya, penyertaan atau investasi langsung mencatatkan porsi sebesar 14,37%. Instrumen ini dipilih dengan pertimbangan jangka panjang.
Di sisi lain, obligasi korporasi memiliki porsi yang lebih kecil. Penempatan dana pada obligasi korporasi tercatat sebesar 6,05%.
Sertifikat Bank Indonesia dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia turut melengkapi portofolio. Porsinya tercatat sebesar 5,32%.
Sementara itu, saham dan reksa dana memiliki porsi paling kecil. Total penempatannya berada di angka 5,30% dari keseluruhan portofolio.
Komposisi tersebut menunjukkan fokus pada instrumen berisiko rendah. Diversifikasi tetap dilakukan untuk menjaga keseimbangan portofolio.
Tantangan Industri Dana Pensiun di Tengah Ketidakpastian
Lebih jauh, Budi juga menyoroti tantangan utama yang dihadapi industri dana pensiun. Salah satunya adalah meningkatnya pembayaran manfaat pensiun.
Peningkatan pembayaran manfaat terjadi seiring bertambahnya peserta yang memasuki usia pensiun. Kondisi ini berlangsung di tengah dinamika pasar keuangan yang tidak menentu.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi strategi investasi. Fluktuasi pasar menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola dana pensiun.
“Untuk menghadapinya, Dana Pensiun BCA menerapkan strategi investasi yang prudent,” jelas Budi. Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan dana.
Ia menambahkan bahwa keseimbangan antara hasil investasi dan likuiditas terus dijaga. Disiplin terhadap ketentuan regulator juga menjadi prinsip utama.
Kepatuhan terhadap regulasi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan peserta. Selain itu, hal ini juga memastikan pengelolaan dana berjalan sesuai koridor.
Tantangan industri dana pensiun juga tercermin dalam dokumen perencanaan nasional. Roadmap Pengembangan dan Penguatan Dana Pensiun Indonesia 2024–2028 memuat sejumlah isu strategis.
Dalam roadmap tersebut, transparansi investasi menjadi salah satu tantangan utama. Tidak semua peserta memahami bahwa dana pensiun mereka benar-benar diinvestasikan.
Kurangnya pemahaman ini berpotensi menimbulkan kesenjangan informasi. Peserta belum sepenuhnya mengetahui bagaimana dana mereka menghasilkan tingkat pengembalian tertentu.
Selain transparansi, roadmap juga menyoroti rendahnya investasi dana pensiun pada instrumen ESG. Instrumen yang mendukung aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola masih terbatas.
“Tantangan lainnya adalah sebagian besar DPPK masih memiliki investasi yang tidak liquid,” tulis roadmap tersebut. Contohnya investasi dalam bentuk penyertaan langsung.
Tanah dan bangunan juga disebut sebagai aset yang kurang likuid. Kondisi ini dapat memengaruhi fleksibilitas pengelolaan dana dalam jangka pendek.
Data OJK dan Arah Penguatan Industri
Sebagai gambaran industri secara keseluruhan, Otoritas Jasa Keuangan mencatat adanya peningkatan kinerja dana pensiun. Return on Investment dana pensiun tercatat meningkat secara tahunan.
OJK mencatat ROI dana pensiun mengalami peningkatan sebesar 1,45% secara year on year. Posisi per Oktober 2025 tercatat sebesar 7,03%.
Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan kinerja investasi secara agregat. Namun, tantangan struktural masih perlu mendapatkan perhatian.
Ke depan, OJK mendorong industri dana pensiun untuk mengoptimalkan strategi alokasi aset. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tahan portofolio.
Selain itu, edukasi peserta juga menjadi fokus perhatian regulator. Khusus bagi Dana Pensiun Lembaga Keuangan, peningkatan literasi dinilai penting.
“Agar pemilihan investasi selaras dengan profil risiko dan liabilitas,” lanjut Ogi. Penyelarasan ini diharapkan mendorong kinerja investasi yang lebih optimal.
Dengan strategi yang tepat, kinerja investasi dapat dijaga secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk memastikan keberlangsungan pembayaran manfaat pensiun.
Secara keseluruhan, capaian ROI Dapen BCA sebesar 8,8% menjadi sinyal positif. Kinerja ini mencerminkan efektivitas strategi investasi yang diterapkan.
Stabilitas hasil investasi juga menunjukkan ketahanan pengelolaan dana pensiun. Di tengah tantangan industri, pendekatan prudent tetap relevan.
Ke depan, konsistensi strategi dan adaptasi terhadap perubahan pasar menjadi kunci. Dapen BCA diharapkan mampu mempertahankan kinerja positif tersebut.