CIMB Niaga

CIMB Niaga Fokus Optimalkan Biaya Sambil Jaga Pertumbuhan Laba

CIMB Niaga Fokus Optimalkan Biaya Sambil Jaga Pertumbuhan Laba
CIMB Niaga Fokus Optimalkan Biaya Sambil Jaga Pertumbuhan Laba

JAKARTA -  PT Bank CIMB Niaga Tbk optimistis mampu menjaga efisiensi operasional di tengah tekanan ekonomi yang masih membayangi kinerja perbankan nasional.

Keyakinan ini muncul di tengah laporan peningkatan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), indikator utama efisiensi bank.

Hingga September 2025, rasio BOPO CIMB Niaga tercatat 73,23%, naik dari 72,85% pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penurunan kualitas kredit.

“Pada kuartal III-2025, ada pencadangan yang kami siapkan sebagai antisipasi penurunan kualitas kredit,” ujar Lani. 

Meskipun demikian, Lani menegaskan bahwa biaya operasional di luar CKPN tetap relatif stabil, menunjukkan kemampuan bank menjaga efisiensi internal meski menghadapi tantangan eksternal.

Efisiensi Operasional Tetap Terjaga di Luar CKPN

CIMB Niaga mencatat rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) berada di kisaran 45%, yang menjadi salah satu yang terbaik dibandingkan pesaing di industri perbankan. Posisi ini menunjukkan bahwa bank mampu mengelola biaya operasional secara efisien, meski terjadi tekanan pada rasio BOPO akibat CKPN.

Lani menegaskan, efisiensi ini menjadi bukti kemampuan manajemen untuk meminimalkan dampak eksternal pada operasional bank. Dengan pengelolaan yang disiplin, bank dapat menjaga margin operasional dan memanfaatkan peluang bisnis di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Peningkatan CKPN sebagai Langkah Antisipasi Risiko Kredit

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi rasio BOPO adalah pembentukan CKPN, yang dilakukan CIMB Niaga sebagai mitigasi terhadap kemungkinan kredit bermasalah. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi penurunan kualitas kredit di beberapa segmen, khususnya kredit perumahan dan otomotif.

“Pembentukan CKPN adalah langkah prudensial untuk memastikan bank siap menghadapi kemungkinan risiko kredit,” jelas Lani. Strategi ini membantu menjaga stabilitas keuangan bank, sekaligus memberikan kepastian kepada investor dan nasabah mengenai manajemen risiko yang diterapkan.

Non Performing Loan dan Fokus pada Perbaikan Kualitas Kredit

Lani juga mengakui adanya peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) di sejumlah segmen, terutama perumahan dan otomotif. Namun, ia tetap optimistis bahwa kualitas kredit akan membaik menjelang kuartal IV 2025.

“Kami yakin kondisi akan terus membaik menjelang kuartal IV,” ujar Lani. Strategi perbaikan ini mencakup pengawasan ketat terhadap portofolio kredit, evaluasi risiko, serta pendekatan proaktif kepada nasabah untuk mengurangi potensi gagal bayar.

Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh Positif

Meski menghadapi tekanan, CIMB Niaga mencatat laba operasional hingga November 2025 sebesar Rp 7,76 triliun, meningkat dari Rp 7,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya atau naik 4,74% secara tahunan. Sementara laba bersih bank tercatat Rp 6,15 triliun, naik dari Rp 5,85 triliun atau 5,13% secara tahunan.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa bank mampu menjaga profitabilitas meski ada tekanan biaya dan risiko kredit. Lani menekankan bahwa manajemen berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan laba, pengelolaan risiko, dan efisiensi operasional.

Strategi Manajemen Biaya dan Optimisasi Operasional

CIMB Niaga terus fokus pada strategi optimisasi biaya untuk menjaga efisiensi. Manajemen melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap biaya operasional, pengelolaan sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi digital untuk mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan produktivitas.

Dengan rasio CIR yang stabil di kisaran 45%, bank berhasil menjaga efisiensi internal yang baik. Hal ini memungkinkan bank tetap kompetitif dibandingkan peer, serta menjaga kapasitas untuk menghadapi fluktuasi ekonomi dan volatilitas pasar keuangan.

Peran Digitalisasi dalam Mendukung Efisiensi

Digitalisasi menjadi salah satu pilar penting bagi CIMB Niaga untuk meningkatkan efisiensi operasional. Dengan penggunaan aplikasi perbankan digital, proses transaksi menjadi lebih cepat dan hemat biaya. 

Selain itu, digitalisasi membantu manajemen memantau performa cabang, alur proses kredit, dan aktivitas operasional secara real time.

Lani menekankan bahwa implementasi digitalisasi sejalan dengan strategi bank untuk menjaga efisiensi biaya sambil meningkatkan kualitas layanan bagi nasabah. Langkah ini juga mendukung adaptasi terhadap perilaku konsumen yang semakin digital-savvy.

Optimisme CIMB Niaga di Tengah Tantangan Ekonomi

Meski rasio BOPO meningkat, Lani tetap optimistis bahwa efisiensi bank akan membaik. Bank siap menghadapi tekanan ekonomi yang masih membayangi industri perbankan, termasuk risiko kredit, fluktuasi suku bunga, dan persaingan pasar.

“Kami tetap optimistis kondisi operasional dan efisiensi akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan,” kata Lani. Optimisme ini didukung oleh strategi manajemen risiko yang matang, fokus pada pengendalian biaya, dan penggunaan teknologi untuk mempercepat proses bisnis.

Kinerja Kompetitif Dibandingkan Peer Industri

CIMB Niaga menegaskan bahwa posisi CIR sebesar 45% menjadikan efisiensi bank lebih baik dibanding pesaing di industri. Hal ini mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya, mengoptimalkan pendapatan operasional, dan menjaga profitabilitas secara berkelanjutan.

Dengan efisiensi yang lebih tinggi, bank memiliki ruang manuver untuk investasi digital, ekspansi bisnis, dan inovasi produk tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.

Meskipun rasio BOPO meningkat menjadi 73,23%, CIMB Niaga tetap optimistis mampu menjaga efisiensi operasional. Strategi pengelolaan CKPN, fokus pada kualitas kredit, digitalisasi layanan, dan kontrol biaya internal menjadi kunci keberhasilan. 

Laba operasional dan bersih yang tumbuh positif menunjukkan bahwa bank mampu beradaptasi dan bertahan dalam kondisi ekonomi yang menantang.

Efisiensi, pengelolaan risiko, dan digitalisasi menjadi tiga pilar utama yang menopang kinerja bank, sekaligus memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan profitabilitas stabil. Lani menekankan, bank siap menghadapi kuartal IV dan menjaga posisi kompetitif di industri perbankan nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index