JAKARTA - Tidak semua tanda stres muncul dalam bentuk kelelahan mental atau perubahan suasana hati. Dalam banyak kasus, kulit justru menjadi cermin paling jujur yang menunjukkan bahwa tubuh sedang berada di bawah tekanan.
Perubahan pada wajah dan kulit sering kali muncul tanpa disadari sebagai respons alami tubuh terhadap stres. Mulai dari jerawat yang datang mendadak hingga rasa gatal tanpa sebab, semua itu bisa menjadi sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Ketika stres berlangsung lama, tubuh akan mengaktifkan sistem pertahanan internal secara terus-menerus. Kondisi ini memicu perubahan biologis yang akhirnya berdampak langsung pada kesehatan kulit.
“Saat kita berada dalam kondisi stres kronis, tubuh mengaktifkan sistem respons stres internal yang memicu pelepasan hormon seperti kortisol dan neurotransmiter,” ujar dokter kulit dr. Hallie McDonald, Rabu, 31 Desember 2025. Ia menjelaskan bahwa proses ini bukan hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga jaringan kulit.
Menurut McDonald, pelepasan hormon stres dapat meningkatkan peradangan dan melemahkan lapisan pelindung kulit. Dampaknya, imunitas kulit menurun dan berbagai masalah dermatologis lebih mudah muncul.
Reaksi kulit akibat stres sering kali tampak sepele di awal. Namun, jika diabaikan, perubahan ini bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih serius dan menetap.
Berikut delapan tanda pada kulit yang kerap dikaitkan dengan stres menurut para dokter kulit. Setiap tanda ini dapat muncul sendiri atau bersamaan tergantung kondisi tubuh masing-masing orang.
Jerawat hingga Penyakit Kulit yang Kambuh
Jerawat merupakan tanda stres yang paling umum dan mudah dikenali. Saat stres meningkat, produksi minyak di kulit ikut melonjak dan memicu peradangan.
“Hormon stres seperti kortisol meningkatkan produksi sebum dan inflamasi, yang membuat jerawat dan iritasi menjadi lebih parah,” kata McDonald. Kondisi ini membuat jerawat lebih sulit sembuh meski perawatan sudah rutin dilakukan.
Selain jerawat, stres juga dapat memicu kambuhnya penyakit kulit kronis. Eksim, psoriasis, dan rosacea sering memburuk saat seseorang berada dalam tekanan emosional.
“Banyak kondisi seperti eksim dan psoriasis memburuk saat seseorang mengalami stres,” ujar dokter kulit dr. Aleta Simmons. Akibatnya, kulit terasa lebih gatal, merah, dan meradang dari biasanya.
Kambuhnya kondisi ini sering membuat penderitanya semakin tertekan. Lingkaran stres pun menjadi sulit diputus jika tidak disadari sejak awal.
Masalah-masalah ini menunjukkan bahwa stres bukan sekadar gangguan mental. Tubuh secara keseluruhan ikut merespons tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Perubahan di Area Mata dan Tekstur Kulit
Area bawah mata menjadi salah satu bagian wajah yang paling cepat menunjukkan tanda stres. Kantung mata dan lingkaran hitam sering kali tampak lebih jelas saat seseorang kurang tidur.
Peningkatan hormon kortisol dapat menyebabkan retensi cairan di area wajah. Kondisi ini membuat mata terlihat sembap dan lelah meski usia masih tergolong muda.
“Lingkaran hitam dan kantung mata sering berkaitan dengan kurang tidur, yang sangat dipengaruhi oleh stres,” kata Simmons. Pola tidur yang terganggu menjadi faktor utama munculnya perubahan ini.
Selain area mata, tekstur kulit juga bisa berubah akibat stres. Kulit yang sebelumnya halus dapat terasa kasar dan lebih sensitif terhadap lingkungan.
“Tekstur kulit bisa terasa lebih kasar karena kulit yang stres lebih sensitif dan mudah bereaksi,” ujar dokter kulit dr. Lauren Moy. Hal ini berkaitan erat dengan melemahnya skin barrier.
Ketika lapisan pelindung kulit terganggu, air lebih mudah menguap dari permukaan kulit. Akibatnya, kulit menjadi kering, kusam, dan mudah iritasi.
Perubahan tekstur ini sering disalahartikan sebagai tanda penuaan. Padahal, stres berkepanjangan bisa menjadi penyebab utama yang tersembunyi.
Rambut Rontok hingga Reaksi Gatal Mendadak
Stres tidak hanya berdampak pada kulit wajah, tetapi juga kesehatan rambut. Salah satu kondisi yang sering muncul adalah telogen effluvium.
Telogen effluvium merupakan kerontokan rambut yang biasanya terjadi beberapa minggu atau bulan setelah stres berat. Rambut rontok dalam jumlah banyak dan terasa lebih tipis dari biasanya.
“Pasien sering mengatakan rambutnya rontok dari akar,” kata McDonald. Ia menambahkan bahwa stres menjadi salah satu pemicu utama kondisi ini.
Menurutnya, kerontokan juga bisa dipengaruhi oleh penyakit, operasi, persalinan, atau perubahan hormon. Namun, stres tetap menjadi faktor yang paling sering ditemukan.
Selain rambut rontok, biduran atau rasa gatal mendadak juga kerap muncul. Reaksi ini bisa terjadi tanpa adanya alergi yang jelas.
“Flare-up pada berbagai kondisi kulit sangat umum terjadi, dan saya cukup sering melihat biduran yang berkaitan dengan stres,” ujar dokter kulit dr. Aamna Adel. Respons ini menunjukkan tubuh sedang berada dalam kondisi waspada berlebihan.
Gatal dan biduran akibat stres sering muncul tiba-tiba. Jika stres berlanjut, keluhan ini dapat datang berulang kali.
Sensitivitas Kulit dan Kebiasaan Tanpa Sadar
Stres juga dapat memicu perubahan perilaku yang berdampak pada kulit. Kebiasaan seperti menggaruk, menggigit kuku, atau mengelupas kutikula sering dilakukan tanpa sadar.
“Kebiasaan ini dapat menyebabkan luka kecil, bekas kehitaman, hingga gangguan penyembuhan karena skin barrier terus terganggu,” kata McDonald. Jika dilakukan terus-menerus, kerusakan kulit bisa semakin parah.
Selain itu, kulit yang sedang stres biasanya menjadi jauh lebih sensitif. Produk perawatan yang sebelumnya aman bisa tiba-tiba menimbulkan rasa perih atau menyengat.
“Bukan produknya yang berubah, tetapi ambang toleransi kulitnya yang menurun akibat stres,” ujar McDonald. Kondisi ini sering membuat seseorang bingung dan mengganti produk secara berlebihan.
Padahal, mencoba terlalu banyak produk baru justru bisa memperburuk keadaan. Saat skin barrier terganggu, kulit membutuhkan perlakuan yang lebih lembut.
Langkah yang Sebaiknya Dilakukan Saat Kulit Mengalami Stres
Ketika kulit mulai menunjukkan reaksi akibat stres, dokter menyarankan untuk tidak panik. Langkah pertama adalah menghentikan eksperimen perawatan yang berlebihan.
“Ketika skin barrier terganggu, terlalu banyak bahan aktif atau perawatan keras bisa memperburuk peradangan,” kata McDonald. Fokus utama sebaiknya adalah memulihkan fungsi dasar kulit.
McDonald menyarankan rutinitas sederhana seperti pembersih lembut, pelembap tanpa pewangi, dan tabir surya. Pendekatan ini membantu kulit kembali ke kondisi seimbang.
Selain perawatan luar, faktor gaya hidup juga perlu diperhatikan. Pola tidur, beban kerja, dan kondisi emosional memiliki peran besar dalam pemulihan kulit.
“Stres related skin changes sangat umum dan bersifat sementara. Kulit adalah bagian dari respons stres tubuh,” tutup McDonald. Ia menekankan bahwa merawat diri secara menyeluruh membantu kulit pulih secara alami.
Dengan mengenali tanda-tanda ini lebih awal, seseorang dapat mencegah masalah kulit berkembang lebih jauh. Kulit yang sehat sering kali berawal dari pikiran dan emosi yang lebih seimbang.